Gunungan Wayang

Gunungan atau disebut juga kayon, selalu muncul dalam pertunjukan wayang. Gunungan ini memiliki banyak fungsi, yaitu sebagai tanda dimulai/berakhirnyanya pertunjukan wayang, tanda pergantian adegan/tempat, untuk menggambarkan suasana cerita (sedih, gembira), atau keadaan tanpa tokoh wayang, atau untuk menggambarkan 3 unsur : air, api, atau angin.

Gunungan atau kayon ada 2 macam, yaitu Kayon Gapuran dan Kayon Blumbangan. Kayon Gapuran bentuknya ramping dan lebih tinggi dari Kayon Blumbangan. Di bagian bawahnya berlukiskan gapura, dan disamping kanan-kirinya dijaga dua raksasa kembar Cingkarabala dan Balaupata. Bagian belakangnya berlukiskan api merah membara. Kayon blumbangan yang lebih pendek, bagian bawahnya berlukiskan kolam dengan air yang jeernih. Ada gambar ikan berhadap-hadapan di tengah kolam. Bagian belakang berlukiskan api berkobar merah membara.

Pada setiap gunungan yang melambangkan dunia seisinya, ada gambar rumah gedong atau balai yang indah dengan lantai bertingkat tiga. Dua naga kembar bersayap dengan dua ekornya habis pada ujung gunungan. Ada juga gambar hutan belantara yang subur, gambar macan berhadapan dengan banteng, atau gambar pohon besar yang tinggi dibelit ular besar. Dua ekor kera dan lutung sedang bermain di atas pohon. Dua ekor ayam hutan sedang bertengkar di atas pohon.

Sebelum pagelaran wayang dimulai, gunungan biasanya diletakkan di tengah layar. Gunungan ini bisa diartikan sebagai lambang Pancer, yaitu jiwa atau sukma. Bentuknya yang segitiga mengandung arti bahwa manusia terdiri dari unsur cipta, rasa, dan karsa. Sedangkan lambang gambar segi empat melambangkan 4 unsur di bumi : air, api, tanah, dan udara.

Lukisan hewan yang terdapat di dalam gunungan mengandung makna masing-masing :

1. Harimau : lambang roh, anasir api dengan sifat kekuatan nafsu amarah
2. Banteng : lambang roh, anasir tanah, dengan sifat nafsu aluamah,
3. Naga : lambang roh, anasir air, dengan sifat kekuatan nafsu sufiah,
4. Burung Garuda : lambang roh, anasir udara dengan sifat kekuatan nafsu muthmainah.

Ketika pagelaran wayang kulit akan dimulai, dalang menarik gunungan ke bawah, yang bermakna sebagai penjelmaan zat yagn pertama (gasang tumitis). Berhenti tiga kali sebagai lambang dari adanya tiga tataran pembukaan tata mahligai : di kepala (cipta), di dada (rasa), dan di bagian bawah perut (karsa).

This entry was posted in wayang. Bookmark the permalink.

3 Responses to Gunungan Wayang

  1. ronnie says:

    I like it…..pesan bisa ga?
    gimana caranya?

  2. ronnie says:

    gimana caranya pesan baju batiknya

  3. admin says:

    silakan klik gambarnya atau ke tokowayang.com, lalu pilih yg akan dipesan

    Trims

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>