Lakon Wayang Kulit

Dalam dunia pedalangan wayang kulit, dikenal istilah lakon baku, lakon sempalan, dan lakon carangan. Lakon baku adalah lakon yang ceritanya langsung diambil dari Serat Pustaka Raja Purwa. Lakon sempalan adalah lakon hasil pengembangan dalang, yang diambil diambil dari adegan lakon baku, sedangkan lakon carangan adalah lakon-lakon tambahan hasil kreatifitas dalang, tidak terpaku pada cerita atau adegan lakon baku. Lakon carangan tidak terbatas, sehingga masih dimungkinkan muncul lakon-lakon carangan yang baru dengan kisah yang berbeda.

Menurut jenisnya, lakon wayang sendiri kemudian berkembang hingga dapat digolongkan menjadi beberapa kriteria pagelaran yang akan menuntun para pemirsanya lebih memahami cerita wayang :

1. Lakon Raben atau alap-alapan (perkawinan), yaitu cerita yang mengisahkan segala hal berkaitan dengan hubungan antara satria dan putri raja atau bidadari, hingga mengarah ke kisah perkawinan.

2. Lakon Lahir, yaitu cerita tentang kelahiran suatu tokoh wayang.

3. Lakon Kraman, yaitu cerita tentang kejadian antartokoh utama dalam sebuah konflik kekuasaan, pemberontakan, dan perebutan kekuasaan.

4. Lakon Wahyu, yaitu cerita tentang perjalanan tokoh wayang dalam menerima anugerah wahyu dari para dewa.

5. Lakon Mistik, yaitu cerita tentang perjalanan tokoh wayang dalam mencari hakikat hidup atau ilmu luhur yang mengandung ajaran nilai-nilai falsafah hidup

6. Lakon Tragedi, yaitu cerita tentang peperangan, misalnya kisah-kisah dalam perang Bharatayuda antara Pandawa dan Kurawa.

7. Lakon Ruwat, yaitu cerita tentang hal-hal yang berhubungan dengan tolak bala atau untuk menghindari bencana bagi orang atau masyarakat tertentu.

8. Lakon Jumenengan, yaitu cerita tentang perjalanan seorang tokoh wayang yang hendak dinobatkan menjadi raja.

3. Lakon Kraman, yaitu cerita tentang

Posted in Cerita Wayang | Tagged | Leave a comment

Tokoh Brahala

Pada wayang kulit, tokoh brahala digambarkan dalam bentuk wayang raksasa, paling besar diantara wayang yang lain. Pada deretan wayang (janturan), brahala dipasang paling belakang, di sebelah kiri dan kanan tokoh wayang lainnya. Tokoh wayang ini merupakan bentuk jelmaan dari tokoh-tokoh yang dianggap suci dan dikeluarkan saat sang tokoh sedang triwikrama (beralih rupa) karena amarah yang memuncak.

Brahala, atau Brahalasewu, bentuknya ekstrem dan mengerikan. Digambarkan sebagai raksasa sebesar gunung, berambut gimbal atau jabrik seperti api, berkepala banyak, bertangan banyak dengan masing-masing memegang senjata. Tokoh yang dapat beralih rupa menjadi Brahala antara lain : Batara Wisnu, Batara Guru, Batara Ismaya, Prabu Kresna, Prabu Arjuna, atau Prabu Darmakusuma. Misalnya, Prabu Arjuna Sasrabahu bertriwikrama menjadi Brahala sewaktu berperang dengan Dasamuka dan berhadapan dengan Bambang Sumantri.

Posted in Tokoh Wayang | Leave a comment

Tokoh Punakawan Wayang Kulit

Punakawan atau Panakawan artinya abdi setia. Para tokoh punakawan mempunyai peran sebagai abdi atau pembantu tokoh-tokoh utama pewayangan. Tokoh punakawan ini dalam cerita asli Ramayana maupun Mahabarata (versi India maupun Srilanka) tidak dikenal. Cerita yang berkaitan dengan tokoh-tokoh ini merupakan hasil kreatifitas para pujangga dan dalang Indonesia. Oleh karena itu, sifat dan perilaku para tokoh punakawan ini pun sangat mencerminkan budaya Indonesia.

Tokoh punakawan versi wayang kulit Jawa Tengah dan Jawa Timur : Semar Badranaya, Petruk, Gareng, dan Bagong. Untuk beberapa daerah lain, ada sedikit perbedaan. Misalnya di wayang golek Sunda, tidak dikenal Bagong dan Petruk, melainkan Cepot dan Dawala (Dewala). Petruk dalam wayang kulit Jawa Tengah adalah Dewala dalam wayang golek Sunda. Sedangkan Cepot, sebagai pengganti Bagong, memiliki ciri fisik yang sedikit berbeda. Selain itu, kalau Bagong adalah anak bungsu Semar, Cepot merupakan anak sulung Semar dalam cerita wayang golek Jawa Barat. Di daerah Cirebon, tokoh Bagong dikenal dengan nama Lamsijan. Di daerah Banyumas, dikenal dengan nama Bawor.

Meskipun di beberapa daerah memiliki nama dan ciri fisik yang agak berbeda, namun cerita tokoh punakawan pada dasarnya sama, yaitu mempunyai peran sebagai abdi/pelayan tokoh utama. Tokoh punakawan juga menggambarkan sebagai rakyat jelata diantara para kesatria dan raja-raja. Selain itu, penampilan tokoh punakawan juga mempunyai fungsi untuk menghibur dan menjadi penghubung komunikasi antara dalang dan penonton.

 

 

Posted in Tokoh Wayang | 1 Comment

Dewa-dewa Wayang

Dewa-dewa dalam cerita wayang :

1. Sanghyang Wenang
2. Sanghyang Tunggal
3. Batara Antaga
4. Batara Ismaya
5. Batara Manikmaya atau Batara Guru
6. Batara Narada
7. Batari Uma atau Batari Durga
8. Batara Sambu (Sambo)
9. Batara Brama
10. Batara Indra
11. Batara Bayu
12. Batara Wisnu
13. Batara Kala
14. Batara Antaboga
15. Batara Yamadipati
16. Batara Surya
17. Batara Darma
18. Batara Gana (Ganesha) atau Mahadewa
19. Batara Kamajaya
20. Batara Candra
21. Batara Cakra
22. Batara Pertiwi
23. Batara Baruna
24. Hanoman

Posted in Cerita Wayang | Leave a comment

Gunungan Wayang

Gunungan atau disebut juga kayon, selalu muncul dalam pertunjukan wayang. Gunungan ini memiliki banyak fungsi, yaitu sebagai tanda dimulai/berakhirnyanya pertunjukan wayang, tanda pergantian adegan/tempat, untuk menggambarkan suasana cerita (sedih, gembira), atau keadaan tanpa tokoh wayang, atau untuk menggambarkan 3 unsur : air, api, atau angin.

Gunungan atau kayon ada 2 macam, yaitu Kayon Gapuran dan Kayon Blumbangan. Kayon Gapuran bentuknya ramping dan lebih tinggi dari Kayon Blumbangan. Di bagian bawahnya berlukiskan gapura, dan disamping kanan-kirinya dijaga dua raksasa kembar Cingkarabala dan Balaupata. Bagian belakangnya berlukiskan api merah membara. Kayon blumbangan yang lebih pendek, bagian bawahnya berlukiskan kolam dengan air yang jeernih. Ada gambar ikan berhadap-hadapan di tengah kolam. Bagian belakang berlukiskan api berkobar merah membara.

Pada setiap gunungan yang melambangkan dunia seisinya, ada gambar rumah gedong atau balai yang indah dengan lantai bertingkat tiga. Dua naga kembar bersayap dengan dua ekornya habis pada ujung gunungan. Ada juga gambar hutan belantara yang subur, gambar macan berhadapan dengan banteng, atau gambar pohon besar yang tinggi dibelit ular besar. Dua ekor kera dan lutung sedang bermain di atas pohon. Dua ekor ayam hutan sedang bertengkar di atas pohon.

Sebelum pagelaran wayang dimulai, gunungan biasanya diletakkan di tengah layar. Gunungan ini bisa diartikan sebagai lambang Pancer, yaitu jiwa atau sukma. Bentuknya yang segitiga mengandung arti bahwa manusia terdiri dari unsur cipta, rasa, dan karsa. Sedangkan lambang gambar segi empat melambangkan 4 unsur di bumi : air, api, tanah, dan udara.

Lukisan hewan yang terdapat di dalam gunungan mengandung makna masing-masing :

1. Harimau : lambang roh, anasir api dengan sifat kekuatan nafsu amarah
2. Banteng : lambang roh, anasir tanah, dengan sifat nafsu aluamah,
3. Naga : lambang roh, anasir air, dengan sifat kekuatan nafsu sufiah,
4. Burung Garuda : lambang roh, anasir udara dengan sifat kekuatan nafsu muthmainah.

Ketika pagelaran wayang kulit akan dimulai, dalang menarik gunungan ke bawah, yang bermakna sebagai penjelmaan zat yagn pertama (gasang tumitis). Berhenti tiga kali sebagai lambang dari adanya tiga tataran pembukaan tata mahligai : di kepala (cipta), di dada (rasa), dan di bagian bawah perut (karsa).

Posted in wayang | 3 Comments

Filosofi Wayang

Wayang, yang diartikan sebagai bayang, mengandung 2 makna yang tersirat, yaitu (1) bayangan yang ditonton (dari belakang layar), menggambarkan bahwa setiap perilaku manusia, baik atau buruk, dapat dilihat dan dinilai oleh orang lain tanpa memandang fisik, jabatan atau kekayaannya dan (2) bentuk fisik wayang, yang menggambarkan sifat dan perilaku setiap tokoh wayang tersebut. Filsafat dunia wayang dijabarkan dalam 3 macam cara yaitu : sosok (bentuk), karakter/sifat, dan ucapan/pandangan/ajarannya.

Setiap cerita dan percakapan dalam pertunjukan wayang mengandung pelajaran hidup dan wejangan (nasehat) yang bagus. Demikian pula karakter masing-masing wayang juga menunjukkan bahwa sifat manusia bermacam-macam, sebab akibat dari perilaku tokoh wayang dalam setiap cerita dapat menjadi inspirasi dan pelajaran hidup bagi para penontonnya.

Muka wayang ada yang berwarna merah, hitam, dan putih. Warna merah menunjukkan seorang yang memiliki sifat tegas dan keras serta menjadi panutan bagi bawahannya. Warna hitam menggambarkan seorang satria yang memiliki kemantapan diri sebagai panutan, sedangkan warna putih menggambarkan sifat kedewataan (bersih, bijaksana) atau sebaliknya perangai yang tak konsisten. Selain muka wayang, ciri fisik lain seperti lengan wayang juga mengandung makna. Ada wayang yang lengan atau tangannya dua, ada yang tangannya dua, tapi yang satu dimasukkan ke saku (raksasa), dan lain-lain.

Pertunjukan wayang selalu dilengkapi dengan layar yang disorot lampu (menggambarkan matahari), dan tokoh wayangnya berdiri menancap di gedebok pisang (sebagai bumi). Tokoh wayang digerakkan oleh dalang, yang juga menyampaikan cerita dan percakapan antar tokoh wayang tersebut.

Posted in wayang | Leave a comment

Wayang Bendo

Wayang bendo adalah salah satu bentuk wayang terbuat dari kayu (seperti wayang golek purwa) dengan mahkota satria seperti Bendo, bersumber dari wayang papak, Cirebon. Cerita yang dimainkan : cerita babad (Babad Banten, Babad Cirebon), cerita Amir Hamzah, Malik Sep bin Di Yazin, dll. diiringi gamelan Pelog. Munculnya wayang bendo di Bandung atas prakarsa Bupati Bandung Wiranatakusuma III yang  pada tahun 1892 mengundang dalang M. Usup dari Losari, Cirebon dalam acara mengkhitankan anaknya (Aom Muharram). Kemudian memerintahkan M. Usup agar melatih memainkan wayang bendo kepada dalang-dalangnya di Bandung. M. Usup pun pindah ke Bandung. Sejak itulah wayang bendo pupuler di Bandung. Keahlian sebagai dalang wayang bendo diwariskan M. Usup kepada kedua anaknya bernama Ratim dan Rasta, serta muridnya bernama Karim. Wayang bendo makin disukai, lebih-lebih setelah muncul Dalang Emon.

Posted in wayang | Leave a comment

Wayang Kulit Jawa Barat

Wayang kulit yang terdapat di Jawa Barat, baik di wilayah Cirebon maupun di wilayah Betawi, adalah wayang kulit Purwa, yang lakkon-lakonnya berdasarkan kisah Mahabharata dan Ramayana. Tapi yang sering dipentaskan adalah lakon-lakon Carangan, seperti wayang golek Purwa, dan kehebatan dalang terutama ditentukan oleh ketrampilan dan kreativitasnya menciptakanlakon. Sayang bahwa kebanyakan lakon itu hanya dibuat untuk dimainkan dalam satu kesempatan saja, sehingga kebanyakan tidak tercatat. Namun memang banyak dalang yang benar-benar kreatif menciptakan laon yang tahan uji, meskipun ada lakon-lakon yang menjadi populer secara anonim, seperti Ceblok Melahirkan (mungkin diilhami oleh bentuk perut wayang Ceblok yang buncit seperti sedang mengandung), Arjuna Kembar (diikuti oleh Gatotkaca Kembar), Semar Kembar, dan semacamnya. Yang terkenal karena ketrampilan mendalang dan menciptakan lakon ialah dalang Abyor, karena lakon-lakon ciptaannya banyak yang membahas masalah-masalah agama dan ketuhanan.

Dalam wayang kulit Cirebon, jumlah Panakawan bukanlah 4 seperti wayang kulit Yogya-Solo (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) atau wayang golek Sunda (Semar, Cepot, Dewala, dan Gareng), melainkan 9 orang (Semar, Sekarpandan atau Curis, Bagong atau Astrajingga, Ceblok, Cungkring atau Petruk, Udawala atau Dewala, Bitarota, Gareng, dan Bagalbuntung).

Posted in wayang | Leave a comment

Pagelaran Wayang Kulit

Pagelaran wayang kulit Cirebon dengan dalang Ki Anom Sudarso di Festival Wayang Indonesia, gasibu Bandung 17 Desember 2012

 

 

Posted in Pertunjukan | Leave a comment

Wayang Kulit

Wayang kulit, kesenian tradisional asli Indonesia, berkembang di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat (Cirebon)

Posted in wayang | Leave a comment